Tradisi Dandangan; Pertumbuhan Ekonomi dan Ajang Silaturrahim Warga Kudus

Infografis: Riza/SM

Menjelang bulan suci Ramadhan ‘Dandangan’ sudah menjadi tradisi tahun ke tahun bagi masyarakat Kudus. Tak ayal lautan manusia dari berbagai daerah Kudus dan sekitarnya seperti Jepara, Demak dan Pati tumpah-ruah memenuhi ruang-ruang dan sudut kota kretek saat Dandangan tiba. Fenomena Dandangan hanya ada menjelang Ramadhan karena ritual budaya ini memang konon diproyeksikan untuk menyambut sekaligus menetapkan datangnya bulan suci Ramadhan. Hal ini bisa dikatakan sebagai upacara rakyat untuk menyambut datangnya bulan nan suci Ramadhan.

Sejarah Dandangan

Berdasarkan sejarah yang ada, upacara rakyat kudus itu sudah eksis sejak berabad-abad yang lalu, tepatnya sejak Sunan Kudus atau Syeikh Ja’far Shodiq, salah satu wali songo penyebar agama Islam di Jawa, masih sugeng (hidup). Masyarakat dari berbagai daerah menunggu pengumuman awal Ramadhan dari Kanjeng Sunan Kudus, dikarenakan beliau adalah salah seorang wali sanga yang pernah menjabat sebagai imam kelima (terakhir) masjid Demak pada akhir masa pemerintahan Sultan Trenggana dan pada awal masa Sunan Prawata. Menurut De Graaf dan Pigeaud, Sunan Kudus pindah dari Demak dengan mendirikan Kota Kudus setelah berselisih paham dengan Sultan Demak mengenai jatuhnya awal bulan Ramadan kala itu. Dalam kedudukannya sebagai imam masjid, tentu saja Sunan Kudus dikenal sangat alim dalam ilmu agama, terutama fiqih dan falak.
Konon, sejak zaman Syeikh Ja’far Shodiq, setiap menjelang bulan puasa, ratusan santri Sunan Kudus berkumpul di Masjid Menara guna menunggu pengumuman dari Sang Guru tentang awal puasa. Para santri tidak hanya berasal dari Kota Kudus, tapi juga dari daerah sekitarnya seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan sampai Tuban, Jawa Timur. Pada hari menjelang puasa, setelah berjamaah salat ashar, Sunan Kudus langsung mengumumkan awal puasa. Pengumuman itu dilanjutkan dengan pemukulan beduk yang berbunyi “dang-dang-dang”. Suara beduk yang bertalu-talu itulah yang menimbulkan kesan dan pertanda khusus tibanya bulan puasa. Berawal dari suara dang-dang, setiap menjelang puasa, masyarakat Kudus mengadakan tradisi Dandangan.
Sedangkan secara etimologis (bahasa) kata ”dandangan” bisa jadi berasal dari kata ”dandang” atau beduk yang ditabuh bertalu-talu oleh Syeh Ja’far Shadiq. Namun, kata tersebut juga bisa diasumsikan berasal dari kata ”ndang-ndang” (Bahasa Jawa) yang berarti ”cepat-cepat”. Kata cepat-cepat itu bisa dimaknai sebagai selekasnya menyiapkan makan sahur menjelang awal puasa esok hari. Setidaknya, hal itulah yang terungkap dari sejumlah literatur lama dari berbagai perpustakaan kuno di kota Kudus terkait dengan asal usul tradisi Dandangan. Ini menandakan bahwa tradisi ini merupakan tradisi yang tergolong tua dan menghabiskan beratus-ratus lintasan generasi.

Pertubuhan Ekonomi dan Ajang Silaturrahim

Tradisi Dandangan yang melibatkan banyak orang, bahkan sampai saat ini banyak wisatawan dari berbagai kota lain ikut berbondong-bondong datang ke kudus untuk meramaikan dandangan. Mulai dari yang sekedar ingin datang berkunjung dan ada pula yang jauh-jauh datang dari luar Kudus untuk berjualan, semuanya tumpah ruah di kota kretek pada saat itu.
Keramain-keramaian yang diciptakan melalui tradisi Dandangan yang dibawa oleh kanjeng Sunan Kudus ini tentunya menjadi berkah tersendiri, terutama dibidang sosial ekonomi. Bagaimana tidak, lautan manusia yang cukup antusias saat dandangan tiba tentunya akan sangat menguntungkan bagi para pencari rizeki. Mereka berjualan disepanjang jalan area Menara Kudus. Berbagai aneka jualan yang terssaji dan dengan harga yang murah menjadi magnet tersendiri bagi pengunjungnya.
Selain untung dalam segi ekonomi, dandangan juga dapat menjadi sarana silatrrahim atau berkumpulnya warga Kudus dan mengenal budaya-budaya Kudus. Karena pada saat dandangan tiba akan diadakan Kirab Dandangan yang pastinya akan menarik warga Kudus dan sekitarnya untuk berbondong-bondong datang ke Dandangan.
Itulah sedikit banyak tentang dandangan sebagai warisan Kanjeng Sunan Kudus yang masih lestari sebagai tradisi tahun ke tahun di Kudus. Semoga Tradisi Dandangan Kudus akan terus dan tetap lestari hingga nanti.


Oleh: Muhammad Fakhrur Riza

Google +

Admin sekitar muria

Terima Kasih sudah membaca artikel di SEKITARMURIA.COM silahkan tinggalkan komentar maupun like untuk masukan buat tim redaksi. Kami juga menerima tulisan dari pembaca, dengan cara kirim melalui email kami sekitarmuria@gmail.com jangan lupa share artikel ini.

0 komentar:

Post a Comment