Memunculkan Kembali Semangat Tepa Selira Masyarakat Beragama Melalui ‘Banyu Panguripan’


Pers Conference acara Ta'sis Masjid Al-Aqsha Menara kudus (10/03/19).
Credit Foto: Ahmad/SM 
Sekitar 20 orang duduk meriung di Joglo Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) pada tanggal 12 Maret 2019. Mereka merupakan para wartawan dari berbagai media Lokal hingga Nasional. Para pencari berita ini sama-sama menanti penjelasan dari Pengurus YM3SK pada press conference siang itu. Dipimpin oleh Em. Nadjib Hassan dan Abdul Jalil selaku perwakilan pengurus, acara dimulai sekitar pukul 10.30 WIB.

“Alhamdulillah kita bertemu dalam keadaan yang sedikit mendung,” kata Abdul Jalil mengawali acara. Ia mengatakan bahwa acara press conference ini adalah rangkaian awal dari tujuh acara yang akan diadakan oleh Pengurus YM3SK. Usai membuka acara dengan menyapa seluruh audience, lelaki yang juga merupakan seorang Dosen di IAIN Sunan Kudus tersebut menyerahkan sesi pertama kepada Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Em. Nadjib Hassan.

 Konferensi Pers ini diadakan dalam rangka ta’sis, tutur Nadjib. “Ta’sis ini sebenarnya apa sih?” imbuhnya. Nadjib kemudian menghela nafasnya sekali, bersiap menjelaskan. Ia mengawalinya dengan menyebutkan satu nama. Adalah K.H. Syaifuddin Luthfi yang baginya memiliki peran yang sangat penting dalam penetapan tanggal didirikannya Menara Kudus bersamaan dengan Kota Kudus itu sendiri. Pasalnya, Mbah Ifud - begitu sapaan akrabnya - sudah menerjemahkan prasasti yang terdapat di Masjid Menara Kudus. Prasasti tersebut juga berisi tentang keterangan didirikannya Menara dan Kota Kudus. Ia membaca bahwa didirikannya masjid dan kota kudus itu tanggal 19 Rajab 956. Waqod assasa masjidahu alaa taqwaah, begitu bunyinya. Tulisan dalam prasasti tersebut menyitir ayat yang ada di dalam Al-Qur’an. Inilah yang mengawali istilah ta’sis.

 Tahun ini menjadi sangat penting karena sebenarnya masjid ini dan kota kudus merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan sesuai dalam prasasti yang ada di atas pengimaman menara itu. “Oleh karenanya, nek diperingati rodo geden yo rodo wangun,” oleh karenanya, jika diperingati dengan meriah ya pantas, tuturnya dalam Bahasa Jawa. Lalu, alasan mengapa tema pada acara kali ini adalah air, lebih tepatnya Banyu Panguripan, yang diangkat adalah karena banyaknya cerita-cerita rakyat yang eksis hingga saat ini. “Dulu di sini ada banyu panguripan, karena banyak pelencengan kemudian ditutup oleh Menara,” tuturnya mengisahkan cerita rakyat.

 Masalah pelencengan apa yang dikisahkan rakyat tersebut, Nadjib menanggapi bahwasanya itu semua tergantung niatnya. Namun, hal yang sebenarnya penting dikaji dari eksistensi banyu panguripan dalam instrumen dakwah sunan kudus adalah simbol sebagai persatuan, kehidupan, dan tepa selira. “Untuk itulah mengapa kami agendakan, dan harapannya bisa menjadi agenda tahunan selain Buka Luwur,” Tutupnya.

Kosmologi ‘Banyu Panguripan’ dan Terminologi ‘Pelarangan Penyembelihan Sapi’

 “Kita cukup perihatin bahwa tarikan masjid menjadi lebih menduplikasi Timur Tengah dan tidak Jawani itu sudah menjadi tren,” Keluh Abdul Jalil mengawali pembicaraannya di sesi kedua. Ia meresahkan pembangunan masjid yang baru-baru ini hampir tidak ada yang mengakomodasi Jawa. Mulai bentuk, menara , arsitektur, semuanya cenderung menyerupai timur tengah. “Boleh deh, karena memang Islam dari sana, tetapi ada akulturasi yang mesti dibaca sebagai kearifan,” tegasnya. Hal ini menjadi penting karena Menara Kudus merupakan sebuah bangunan yang merefleksikan hubungan toleransi antar agama. Bagaimana tidak, tegasnya, body-nya mirip candi Hindu, atap dan fungsinya Islam, tempat wudlu-nya bergaya Budha. Ada keberanian yang luar biasa dari Sunan Kudus untuk mengawinkan tradisi arab, tapi akomodasi Hindu dan Budha juga tidak luput. Ini merupakan sebuah pesan yang perlu diingat untuk generasi saat ini, “yo ojo ketarik banter-banter (ya jangan ikut-ikutan terlalu jauh),” katanya setengah bergurau.

 Berdasarkan data sejarah, tercatat ada tiga instrumen akulturasi yang digunakan oleh Sunan Kudus, yaitu: Menara, pelarangan penyembelihan sapi, dan banyu panguripan. “Kenapa sapi, itu sudah menjadi cerita yang masyhur dan macem-macem,” kata Abdul Jalil. Tetapi ada dua hal yang menjadi temuan baru: 1) Bali sudah mulai mengikuti Kudus – mengendalikan penyembelihan sapi, 2) Jalaluddin Muhammad Akbar (1560-1605 M), Sultan Mogul ke-3, juga melarang menyembelih sapi dengan alasan yang sama – toleransi agama. Ia kemudian bertanya pada audience, “duluan mana Sunan Kudus dan Joda Akbar? Dan siapa yang meniru?” Ia mengatakan bahwa hal ini bisa dijelaskan dengan tahun, Sunan Kudus pada tahun 1549 sedangkan Joda Akbar 1556. Dalam pendekatan sejarah, hal ini bisa diartikan bahwa ajaran Sunan Kudus terbaca sampai ke Negeri India dan diimitasi oleh Joda Akbar. Hal ini diharapkan bisa menjadi pelajarang penting untuk mengingat sejarah toleransi umat beragama di Negeri kita hingga ke India sana. “Ini perlu kita viralkan agar bisa membentuk koalisi toleransi dari Kudus hingga India, ini kan bisa jadi sumbangan besar anak bangsa bahwa ada toleransi yang sesungguhnya tidak melanggar syari’ah.” Sapi itu halal, tapi jangan menyembelih sapi karena toleransi, sebagaimana arak itu halal menurut Hindu tapi dalam rangka toleransi muslim, maka jangan minum arak. “itu kan clear kan kalau begitu. Tapi karena ada pemotongan-pemotongan sepihak maka kami membuat buku,” tutupnya mengakhiri pembahasan soal sapi.

 Mengenai banyu panguripan, Abdul Jalil kemudian melanjutkan berkisah. Katanya, ada berbagai mitologi atau cerita rakyat yang menceritakan tentang air tersebut. Namun, Ia menemukan bahwa istilah banyu panguripan itu ada di setiap wilayah, terutama di tradisi Hindu. “Kita barusan ke Klaten, di Bayat lebih tepatnya, itu ada banyu Urip.” Abdul Jalil mengatakan bahwa mereka membedakan air dan titra. ‘Air’ adalah air untuk fungsi biologis seperti mencuci tangan, membersihkan noda. Sedangkan Tirta adalah air yang fungsinya spiritual, ada unsur ritual. “Hindu itu kan yang paling deket dengan back to nature, nah yang namanya sesajen mereka itu buah-buahan. Saat buah itu dipetik dari pohonnya kan mati karena sudah putus dari alam, sedangkan Dewa suka yang masih hidup, oleh karena itu sesajen ini perlu diberi Tirta Panguripan agar hidup kembali,” kata Abdul Jalil mengisahkan temuannya. Ini merupakan fungsi dari Tirta Panguripan: Menghidupka kembali, menyegarkan otak, perasaan, spiritualitas. Hal ini menjadi sangat logis, menurutnya, jika Sunan Kudus kemudian mengabadikan cara berfikir ini untuk melakukan penggeseran seperti menggunakannya sebagai air untuk wudlu, air untuk membersihkan hati, dan sebagainya. Ia juga menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an (Al-Anfal: 11) yang mengatakan bahwa air juga memiliki fungsi sebagai berikut: membersihkan, menghilangkan dari gangguan setan, untuk mengikat beberapa hati, dan kesaktian. “Itu nash Qur’an, bahwasanya air juga digunakan sebagai fungsi yang disebutkan itu. Lalu yang salah apa?” keluhnya. Bagi Jalil, itu sama sekali bukan perbuatan syirik atau semacamnya, justru itu adalah metode Sunan Kudus dalam menerjemahkan ayat dalam rangka berdakwah.

 Melihat metode Sunan Kudus dalam menerjemahkan ayat yang juga sesuai dengan realita sosial masyarakat Kudus saat itu, banyak daerah yang kemudian ingin mengikuti cara Syikh Ja’far Shodiq tersebut. Itulah asal-muasal berbagai sendang, sumur, maupun mbelik di seluruh penjuru Kudus eksis. Oleh karenanya, dalam rangka menyatukan kembali seluruh sumber air penguripan di seluruh Kudus, pengurus YM3SK mengadakan acara Kirab Banyu Panguripan pada tanggal 24 Maret nanti. “Daripada itu menjadi tercerai berai, maka yuk dikumpulkan semuanya” Abdul Jalil sambil sesekali menyesap rokoknya “Jadi ini semangatnya ngerangkul,” lanjutnya. Setiap mbelik nantinya membawa airnya masing-masing menggunakan gentong yang sudah diberikan oleh Panitia. Puncak dari kirab tersebut nantinya akan menyatukan Banyu Panguripan dari lima puluh sumber air menjadi satu. Tidak hanya disatukan, tetapi juga akan dikhatamkan dikhatamkan Al-Qur’an sebanyak 19 kali. Setelah itu, masyarakat bebas meminum air dari masing-masing mbelik maupun yang sudang disatukan. Acara ini juga akan diikuti oleh Em. Nadjib Hassan selaku Ketua YM3SK dan Muhammad Tamzil selaku Bupati Kudus.

Oleh: Mirza Muchammad Iqbal 
Google +

Admin sekitar muria

Terima Kasih sudah membaca artikel di SEKITARMURIA.COM silahkan tinggalkan komentar maupun like untuk masukan buat tim redaksi. Kami juga menerima tulisan dari pembaca, dengan cara kirim melalui email kami sekitarmuria@gmail.com jangan lupa share artikel ini.

0 komentar:

Post a Comment