Kuliner Kudus dan Peradaban Maju

Kuliner Kudus (Sumber: yasiryafiat.wordpress.com)
Sebuah daerah dikatakan maju manakala terdapat ragam kuliner yang khas. Konon perkataan itulah yang dianggap relevan bila dikaitkan dengan peradaban dan kemapanan. Kuliner adalah simbol pangan yang menandakan kesejahteraan. Tantangannya kini melebar kepada persaingan wisata, gaya hidup, dan makna filosofis. Dan begitulah pangan (baca : kuliner) berkembang.

Tak bisa dipungkiri, bahwa urusan pangan adalah keniscayaan mutlak bagi keberlangsungan kehidupan. Dengan cara apapun persoalan pangan harus selesai terlebih dahulu demi kemajuan pada segala bidang. Di negara-negara benua Eropa dan Amerika yang tergolong maju misalnya, kesejahteraan rakyat mereka terwujud sebab mampu mengolah alam dan membebaskan diri dari masalah kelaparan. Perut mereka terisi, sehingga tubuh mereka bisa bergerak aktif untuk mengolah bidang lain. 

Sebenarnya, untuk sekadar dijadikan kajian dan pijakan, Indonesia harusnya tidak dipusingkan oleh persoalan pangan. Kudus misalnya, suatu daerah yang memiliki ragam kuliner yang penuh dengan cerita unik. Beberapa yang bisa kita kaji yaitu, pertama, soto kudus dan nasi pindang, sebagai simbol toleransi dari Sunan Kudus kepada umat Hindu dengan tidak memakan danging sapi. Jadilah soto kudus dan nasi pindang kudus menggunakan daging kerbau, dan bukan sapi. 

Kedua, Lentog tanjung, terkenal dengan kelembutan lontongnya. Ditambah dengan kuah lodeh dan sayur gori (nangka muda). Cocok dihidangkan sebagai menu sarapan pagi untuk kesehatan pencernaan. Ketiga, jenang Kudus yang dikenal dengan rasa yang khas, juga memiliki filosofi jawa jenak (ketenangan). Perlambang dan doa bagi ketenangan batin masyarakat Kudus dalam segala situasi. 

Keempat, bagi vegetarian buah Parijoto bisa jadi pilihan. Nilai magis menjadikan buah ini memiliki daya tarik yang lebih dalam benak masyarakat. Konon buah itu berkhasiat menyuburkan reproduksi bahkan sampai bisa menjadikan anak yang lahir menjadi cantik/tampan. Demikian itu didukung adanya folklore bahwa istri Sunan Muria adalah orang pertama yang membuktikan hal itu. 

Selanjutnya ialah pecel pakis. Tidak berbeda dengan pecel pada umumnya memang, hanya saja, pecel ini dilengkapi dengan tanaman liar bernama pakis haji yang hanya tumbuh di hutan pedalaman Muria. 

Bagi masyarakat Kudus, kuliner juga patut untuk disakralkan. Seperti halnya, nasi jangkrik dan nasi uyah asem, yang hanya dikeluarkan di saat-saat tertentu. Yaitu dalam peringatan khaul Sunan Kudus atau masyarakat biasa mengenalnya dengan sebutan buka luwur. Berharap berkah, Setiap 10 Muharram masyarakat mengantre panjang untuk menapatkan nasi tersebut yang dibagikan oleh pengurus Yayasan Masjid Makam Menara Kudus (YM3SK). 

Yang terbaru, jajanan khas Kudus kini semakin memperkaya varian jenisnya. Adalah pentol muria dan getuk ‘nyimut’ Kajar. Kabarnya dua jajanan tersebut kini menjadi tujuan khusus oleh para wisatawan ke Muria. Selain berwisata religi ke makam Sunan Muria, mencicipi pentol muria seolah menjadi hal wajib yang harus dilakukan. Pentol merupakan jajanan serupa bakso. Rasa dan kenikmatan pentol muria yang khas dianggap memiliki nilai lebih dibanding pentol di daerah lain.

Begitu pula dengan getuk ‘nyimut’ Kajar. Jajanan jenis ini terbuat dari singkong rebus yang ditumbuk halus dengan campuran sedikit ketan dan digoreng. Sangat cocok bila disantap dengan hangatnya kopi muria. Untuk dua jajanan ini memang tidak ada kaitannya dengan sejarah, mitos, cerita rakyat atau apa saja di zaman walisongo. Hal itu memang murni hasil dari kreativitas masyarakat dalam menciptakan varian masakan.

Arah Pembangunan

Terlihat bahwa perkembangan kuliner di Kudus, tidak hanya dipengaruhi peran Sunan Kudus dan Sunan Muria dan para wali lainnya. Namun juga sebab adanya kreativitas serta komitmen yang tinggi dari masyarakat demi terjaganya nilai luhur dalam rupa kuliner. Maka yang diperlukan kini ialah pola dan prinsip untuk mempromosikan kuliner khas Kudus ke kancah Nasional bahkan Internasional.

Langkah fundamentalis dari pemangku jabatan di Kudus merupakan suatu keharusan. Demikian untuk menjaga dan merawat tumbuhnya potensi kuliner khas Kudus menjadi bagian dari Indonesia. 

Kita perlu menyadari bahwa pangan tidak lagi sekadar menjadi perlambang kesejahteraan yang ditandai dengan perut yang terisi. Pangan akan menjelma menjadi bagian dari gaya hidup. Di dalamnya pula terdapat bahasan kesehatan, filosofi, sampai gengsi. Tidak hanya di Kudus, kekayaan kuliner Indonesia tersebar di berbagai wilayah dengan segala ciri khasnya.

Wisata kuliner akan selalu menjadi nilai lebih bagi suatu daerah. Kudus, dengan segala kekayaan intelektual dan potensi kreativitas masyarakatnya ialah titik penting bagi kemajuan Indonesia. Ia menegaskan bahwa dunia harus “melihat” kita. Yang senantiasa kaya akan segala daya. Termasuk pangan dengan berbagai jenis masakannya. Lalu, sejauh mana kita merawatnya?

Muhammad Farid adalah Pegiat di Paradigma Institute Kudus
Google +

Admin sekitar muria

Terima Kasih sudah membaca artikel di SEKITARMURIA.COM silahkan tinggalkan komentar maupun like untuk masukan buat tim redaksi. Kami juga menerima tulisan dari pembaca, dengan cara kirim melalui email kami sekitarmuria@gmail.com jangan lupa share artikel ini.

0 komentar:

Post a Comment