Ki Hadjar dan Keteladanan Pendidikan

(Sumber: bintang.com)
Sejak ruh kita diwujudkan kita telah mengalami berbagai evolusi pendidikan. Bahkan mungkin tidak hanya kita (umat manusia), jin, malaikat hewan dan tumbuhan pun tak luput dari yang namanya pendidikan alamiah dari Allah SWT. Maka itulah mengapa dalam bahasa arab tuhan disebut sebagai Rabb. Kata itu menjadi dasar dari kosakata tarbiyyah (pengajaran). Artinya, Allah SWT sangat bertanggung jawab atas segala ciptaannya. Termasuk pendidikan makhluk-Nya.

Dimanapun proses situ terjadi, pendidikan tak lepas dari keteladanan. Seperti dalam pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” begitulah pendidikan berlaku. Keteladanan jauh-jauh hari telah diterapkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Menteri Pendidikan pertama ini menerapkan pendidikan karakternya dengan mengelola Taman Siswa yang model pendidikannya langsung terjun kepada alam.

Ia mengajak anak didiknya menelusuri alam, sambil bercerita ia menyisipkan nilai-nilai karakter yang diilustrasikan dengan tokoh-tokoh cerita, dongeng dan pewayangan. 

Ki Hadjar Dewantara sadar bahwa sikap dan tindakan seseorang tidak serta merta bisa didapat dari membaca buku. Sebagai anak yang mulai tumbuh dewasa, mereka berusaha mencari jawaban atas segala hal yang menjadikan dirinya penasaran. Baik itu yang telah dialami sendiri maupun orang lain. Hal ini disebabkan oleh ketetapan Allah SWT yang memang selalu menuntut manusia untuk belajar dan meningkatkan intelegensi.

Intelegensi merupakan sebuah konsep abstrak yang sulit didefinisikan secara memuaskan. Dari sekian danyak definisi intelegensi belum ada yang berhasil menemukan konsep yang padat berisi dan tak terbantahkan. Semua definisi intelegensi masih mempunyai celah untuk gugur manakala ada hal baru. 

Meski begitu, secara garis besar intelegensi masuk dalam tiga klasifikasi (1) kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, beradaptasi, dengan situasi baru dan beragam. (2) kemampuan untuk belajar atau kapasitas untuk menerima pendidikan (3) kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menggunakan konsep-konsep abstrak dan menggunakan secara luas symbol-simbol yang dialaminya untuk perkembangan dirinya dan orang lain.

Melihat hal itu tentunya setiap manusia memiliki intelegensi yang berbeda, baik itu cara mendapatkannya, maupun prakteknya (Desmita : 2013). Artinya, kurikulum yang baik ialah kurikulum yang disesuaikan dengan masing-masing daerah. Pendidikan karakter bukanlah pendidikan yang semata dirumuskan dalam kurikulum nasional. Pendidikan karakter ialah teladan yang baik untuk menciptakan manusia yang baik, sesuai dengan apa yang diinginkan peserta didik.

Kembali kepada metode Ki Hadjar, Ia tidak hanya mengajarkan anak untuk cinta kepada alam, lingkungan dan sesasa manusia. Ki Hadjar juga mengajak anak didiknya meneladani tingkah laku alam. Bagaimana sebuah bunga itu tumbuh, berputarnya bumi, dan karakter setiap manusia berperan di muka bumi.

Dongeng memberikan pikiran-pikiran imajenatif kepada setiap peserta didik untuk bisa memberi gambaran bagaimana ia berperilaku. Bagi seorang guru, ia hendaknya mampu mencair dengan karakter anak didiknya. Rendah hati dan peka terhadap sekitar merupakan sikap wajib yang mesti mengalir dalam urat nadinya. Mengambil nilai positif dari siapapun menjadi keharusan. 

Sebagaimana pesan Ki Hadjar kepada kita semua Berlakulah sebagai murid dimanapun engkau berada. Sebab, semua adalah guru. Di sawah ada guru, di kantor pos ada guru, bahkan di tempat yang kau anggap gelap pun ada guru yang akan menerangi langkahmu menuju millennium berikutnya.

Muhammad Farid, Pegiat di Paradigma Institute
Google +

Admin sekitar muria

Terima Kasih sudah membaca artikel di SEKITARMURIA.COM silahkan tinggalkan komentar maupun like untuk masukan buat tim redaksi. Kami juga menerima tulisan dari pembaca, dengan cara kirim melalui email kami sekitarmuria@gmail.com jangan lupa share artikel ini.

0 komentar:

Post a Comment