Kesederhanaan Kiai Ahmad Fayumi Munji


PATI, SEKITARMURIA.COM - Kiai Fayumi selalu memperhatikan santri-santrinya, baik ketika masih di Pondok atau sudah boyong. Jika perilaku santri melenceng, maka Kiai Fayumi mengingatkan supaya para santri tetap dalam habitat atau khittahnya. 

Tahun 1998, saya melangkahkan kaki ke Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang. Pada waktu bulan Ramadlan, selepas Ngaji pasanan di Jombang selesai, saya biasanya mampir di Pondok Raudlatul Ulum untuk tabarrukan khataman kitab pasanan. Setelah itu baru pulang kampung. 

Awal kali dari Pondok Jombang kembali ke Kajen, kebetulan saya naik gerobak jaran dari pertigaan Ngemplak sampai depan Pondok. Sampai di Pondok, ada Kiai Fayumi di teras ndalem sebagaimana kebiasaan beliau mengawasi para santri. Saya saat itu pakai celana sebagaimana kebiasaan pulang. 

Setelah mushafahah dengan Kiai Fayumi, beliau langsung mendidik dan membangun mental saya, beliau dawuh "Sak iki wes dadi wong kota yo ora gelem mlaku" (Sekarang sudah jadi orang kota ya, tidak mau jalan). 

Saya kaget, tertegun, dan merasa salah. Saya membayangkan Kiai Fayumi sebagai Ulama besar dengan berbagai jabatan prestisius, seperti Rais Syuriyah PCNU Pati, Pengurus PWNU Jateng, dan Pengurus Lajnah Falakiyah Jawa Tengah, tapi beliau tetap mampu mempertahankan pola kesederhanaan dan kesahajaannya. Ke mana-mana beliau biasa jalan kaki, naik dokar, ngrobrak jaran, dan angkutan umum. Tidak ada rasa gengsi dan turun derajat dengan pola hidup ini. 

Baca Juga : Belajar Tawadlu dari Kiai Sahal Mahfudh

Kiai Fayumi mengingatkan saya supaya tidak merasa sombong, punya perasaan lebih dari yang lain, dan menganggap orang lain di bawahnya. Rendah hati sebagai ciri khas santri tidak boleh hilang dari kepribadian santri. 

Semangat berkorban dan berjuang dalam hidup yang menjadi orientasi dasar hidup santri tidak boleh lenyap di telan modernitas zaman. Santri Harus tetap dalam khittahnya sebagai generasi penerus Kiai. 

وما يلي المضاف ياءتي خلفا - عنه في الاعراب اذا ما حذفا 
Santri harus siap meneruskan perjuangan Kiai di manapun dan kapanpun. Perjuangan dalam rangka menyebarkan ilmu Allah dan memberdayakan masyarakat demi tegaknya pilar-pilar agama yang menekankan moralitas luhur. 

Kisah di atas menunjukkan perhatian besar Kiai terhadap pembentukan mental santri, melebihi perhatiannya terhadap penampilan luar yang penuh asesoris semu. Mental menjadi imam yang sangat menentukan eksistensi dan aktualisasi seseorang dalam kehidupan. 

Kisah ini diceritakan oleh Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA. (WA/SM)
Google +

Admin Sekitar Muria

Terima Kasih sudah membaca artikel di SEKITARMURIA.COM silahkan tinggalkan komentar maupun like untuk masukan buat tim redaksi. Kami juga menerima tulisan dari pembaca, dengan cara kirim melalui email kami sekitarmuria@gmail.com jangan lupa share artikel ini.

0 komentar:

Post a Comment