Pesan Alam Muria dalam Kuliner

(Sumber: flonimal-nesia.blogspot.com)
Melewati pepohonan rimbun yang menebarkan udara sejuk. Ditemani nada dan kicauan burung kami menyusuri hutan lindung di pedalaman pegunungan muria. Semula ragu perjalanan itu. Jalan yang licin, karena hujan di malam harinya, terjal, dan naik turun membuat kami sedikit kesulitan untuk mencapai perkebunan buah paling dicari itu. Semangat Sutrimo, salah satu pemilik kebun Parijotho di daerah pegunungan Muria, langkah kebat terus ia tunjukkan, membuat malu para pemuda jika harus menyerah dengan keadaan. Perbincangan yang hangat sepanjang jalan membuat kesulitan itu sirna.

Setengah jam telah tim Paradigma lewati. Gerombolan buah merah layaknya anggur, dengan ukuran lebih kecil, di depan mata. Itulah buah parijoto yang banyak cari. Buah yang memiliki keunikan dan daya magis tingkat tinggi. 

Konon buah ini berkhasiat untuk banyak manfaat. Mulai dari suburnya produktivitas pasangan, memperlancar kelahiran, bahkan menambah aura kecantikan juga ketampanan. Selain itu juga dipercaya bagi ibu hamil, jika anaknya laki-laki maka anaknya akan tampan jika anaknya perempuan akan cantik. “Buah ini juga bisa menyembuhkan darah tinggi dan panas dalam asal mantep dan yakin. Buah ini bisa berkhasiat untuk itu semua,” kata Sutrimo kepada kami, Sabtu, pekan lalu.

Menurutnya, buah ini sudah ada sejak zaman Sunan Muria (Raden Umar Said) berdakwah disekitar pegunungan Muria. Dulu, buah ini dikenalkan oleh Sunan Muria kepada istrinya ketika hamil. Sang istri bertanya banyak perihal Parijotho, dan akhirnya sang istri menggunakannya sebagai obat untuk kesuburan kandungannya. Berawal dari situlah buah parijoto ini terkenal ditelinga masyarakat sebagai buah yang berkhasiat dan memiliki daya magis. Bahkan ada banyak cerita baru-baru ini yang membuktikan hal itu. 

Mbah Trimo, panggilan akrabnya, menceritakan, sekitar sepuluh tahun yang lalu, ada pasangan suami istri dari luar kota yang telah lama membina rumah tangga tetapi belum juga dikaruniai putra. Mereka lantas disarankan oleh seorang penjual untuk memakan buah Parijotho dengan kemantapan dan wasilah semoga maksudnya untuk mempunyai keturunan bisa tercapai. Terbuktilah, selang satu setengah tahun pasangan itu kembali lagi kepada si penjual untuk berterima kasih dengan membawa oleh-oleh dan sembako. “Lho itu bukti nyata mas, pernah ada kejadian semacam itu dan saya juga heran kenapa bisa seperti itu,” ujar Mbah Trimo dengan mata berbinar.

Adanya rentetan kejadian demikian itu membuat buah ini bernilai jual yang tinggi. Parijotho juga digunakan sebagai makanan wajib untuk dibagikan dalam ritual selametan kehamilan atau lahiran. Cara makannyapun sesuai selera sang Ibu hamil saat hendak memakannya, biasanya buah ini menjadi rujak. Hal itu sudah menjadi adat yang tidak terbantahkan. Dengan itu masyarakat sering menghubungkannya dengan kepribadian atau watak si jabang bayi kelak. Jika rujaknya terlalu pedas kelak kalau beranjak dewasa anak akan mudah marah, jika terlalu asin anak akan menjadi pemalu, begitu seterusnya.

Satu gagang buah parijoto harganya bisa mencapai puluhan ribu rupiah. Demikian itu tergantung tingkat ketersediaan dan permintaan pasar. Dalam masa panen, yaitu saat musim penghujan, harga parijoto berkisar Rp. 10.000,- sampai Rp. 20.000,-. Ketika barang mulai langka sedangkan permintaan masih tinggi harganya bisa mencapai Rp. 50.000,- per gagangnya. “Biasanya harga itu menurut pada musim mas, kalau pas permintaannya banyak ya harga semakin tinggi,” tuturnya.

Sempat tak dilirik

Pada era krisis moneter dan tahun-tahun kelam pemerintahan orde baru, buah ini sebenarnya belum begitu terkenal. Masyarakat juga belum ada yang membudidayakan Parijotho seperti sekarang. Bahkan di pedalaman hutan pegunungan Muria ini hanya terdapat sedikit bagian yang ditanami Parijotho, kurang lebih satu hektar. Demikian itu sebab tingkat kesulitan menentukan lahan yang cocok untuk bisa ditanami Parijotho.

“Disini (di Muria) itu hanya ada delapan orang yang mempunyai perkebunan Parijotho, itu pun tidak luas. Faktor tanah dan kelembaban udara mungkin yang membuat Parijotho tidak bisa ditanam disembarang tempat,” jelasnya.

Selain itu, Parijotho memang berbeda dari yang lain. Ia tumbuh di tanah-tanah terjal, dalam istilah jawa disebut gumpeng. Yaitu tanah dengan kemiringan yang mendekati 90 derajat. Hal itu pula lah yang menjadi sebab Parijotho tidak banyak dibudidayakan disembarang tempat. 

“Bahkan saya dulu juga tidak menyangka akan membudidayakan buah parijoto. Dulu saya itu malah mencari tanaman anggrek untuk saya jual. Tapi sejak anggrek mulai susah dicari, saya bersama tiga teman saya mencoba menanam Parijotho. Dengan susahnya saya mengambil bibit parijoto yang saya dapat dari gumpeng di hutan, terjepit diantara akar-akar pohon besar, mengambilnyapun harus pake tali waktu itu” kenang bapak tiga anak itu.

Pecel pakis

Parijoto telah menjadi ikon dan potensi kuliner bernuansa vegetarian di Muria. Selain itu, ihwal makanan khas, Pecel pakis merupakan salah satu ragam yang layak dilirik sebagai warisan kuliner Nusantara. Pakis adalah tamanan yang tumbuh liar di hutan dan biasanya ditempat-tempat lembab, seperti dipinggir anakan sungai, sungai-sungai kecil, di bawah pohon besar yang rimbun atau hutan yang agak basah. 

Namun, ditangan masyarakat Pegunungan Muria, pakis menjadi bahan masakan yang siap menggoyang lidah para pecinta kuliner. Bagi yang ingin mencicipi rasa khasnya bisa mampir ke Warung Pecel Pakis dan Ayam Bakar Mbok Yanah di jalur ojek Muria jl. Pesanggrahan no 193. Makanan dengan bahan utama daun pakis sayur (Diplazium Esculentum Swart) yang dilengkapi dengan bumbu pecel itu merupakan salah satu hasil kreativitas yang bermula dari Keraton Surakarta. 

Sulyati (50), pemilik generasi kedua Warung Pecel Pakis dan Ayam Bakar Mbok Yanah, menuturkan bahwa orang-orang Kudus, khususnya warga pegunungan Muria mengenal bumbu pecel sebab resep yang dibawa oleh neneknya, Mbah Aminah. Ia merupakan salah satu juru masak Keraton Surakarta pada era Sultan Pakubuwana II, yaitu kisaran tahun 1943 M. Pada saat itu, Mbah Aminah telah mahir membuat masakan tradisional, dan bumbu pecel adalah salah satu resep yang ditekuninya di Keraton. 

Nah, ketika pulang ke Muria, Mbah Aminah mengembangkan kemahirannya mengolah bumbu pecel. Mbah Aminah berinisiatif untuk mendorog anaknya, Bu Yanah supaya mendirikan warung makan dengan menu utama pecel, dengan menjadikan pakis sebagai pengganti sayur seperti kangkung, kacang. “Alasan mengapa bahan utamanya adalah pakis sayur sebab tanaman itu di zaman dahulu tumbuh liar di sepanjang jalanan kampung,” tutur Ibu empat anak itu. 

Resep Khusus

Sejak tahun 50an sampai sekarang, warung makan sederhana Mbok Yanah masih menjaga keaslian resep secara turun temurun. Sulyati (50) mulai mengelola warung tersebut sejak tahun 1974 M. . Untuk menjaga kualitas masakan dan resep ia harus turun tangan sendiri untuk membuat bumbu dan mengawasi pegawai dalam memilah pakisnya.

Ada cara khusus untuk memasak pakis supaya warna hijaunya tidak pudar. Bu Yati, panggilan akrabnya, seringkali menggunakan cara yang cukup mudah untuk dilakukan. Ia terlebih dahulu merebus air hingga mendidih, kemudian sayur pakis dimasukkan kedalamnya. Usai dirasa cukup matang, tiriskan dan siram air dengan air yang sudah direbus/matang. “Jika tidak begitu maka pakis rebus nantinya akan menghitam tak terlalu sedap.” Bu Yati menjelaskan.

Sebagai pelengkap pecel pakis di Warung Mbok Yanah menawarkan tambahan ayam goring atau bakar. Dimana ada pecel pakis disitu ada ayam bakar. Ungkapan itu tersemat pada warung Mbok Yanah. Hal itu sebab, pemesan pecel pakis seringkali ingin supaya ditambahkan ayam. “Memang pasangannya pecel pakis ya ayam bakar ini. Dan ini sudah menjadi ciri khas warung ini,” jelasnya.

Satu porsi pecel pakis tanpa ayam bakar yang biasanya dinikmati lima orang, yakni pecel pakis plus nasi dibandrol dengan harga Rp. 30.000,-. Jika ditambah ayam utuh bakaran/gorengan dibandrol dengan harga 130-140 ribu. Harga yang cukup terjangkau untuk menikmati menu pecel pakis lengkap, bukan?.

Sayangnya, kini tanaman pakis sayur tak lagi ditemui di sepanjang jalanan Muria. Dengan jumlah tanaman pakis yang kian menipis, penjual pecel pakis harus memesannya dari Mayong Jepara. Sebagaimana parijoto, pakis membutuhkan lingkungan yang asri, sejuk, dengan kadar kelembaban udara yang pas juga lingkungan yang bersih. Demikianlah pesan yang ingin disampaikan kepada manusia. Dengan menjaga dan merawat lingkungan kita.[]

Muhammad Farid, Bergiat di Paradigma Institute
Google +

Admin Sekitar Muria

Terima Kasih sudah membaca artikel di SEKITARMURIA.COM silahkan tinggalkan komentar maupun like untuk masukan buat tim redaksi. Kami juga menerima tulisan dari pembaca, dengan cara kirim melalui email kami sekitarmuria@gmail.com jangan lupa share artikel ini.

1 komentar: