Mengasuh “Anak Digital”

(Dok. Pribadi)
Beberapa hari terakhir kita banyak disuguhi peristiwa miris di dunia anak-anak kita. Kekerasan, kekejaman banyak dirasakan tak hanya oleh anak-anak namun juga para dewasa. Sebut saja tindak kekerasan guru kepada muridnya, bidan dan dokter kepada pasiennya, bahkan orang tua pada anaknya sendiri. Tindakan tak bermoral itu terus saja merdu di telinga kita. 

Seolah tidak rela generasinya tersiksa, berbagai pendapat bermunculan, pro dan kontra meramaikan jagat media juga dunia nyata. Kemarin (23/07) bertepatan dengan Hari Anak Nasional, grup What’s App di gadget saya ramai dengan ucapan selamat, do’a dan harapan bahkan hastag yang menandai peringatan tersebut. Salah satunya ialah hastag #SaveAnakIndonesia yang tiada hentinya bermunculan diakhir pesan singkat anggota grup. Apresiasi tinggi tentunya atas kesadaran akan pentingnya mendidik, merawat dan mendoakan anak didik kita. 

Tidak cukup itu, perbincangan mengenai Hari Anak Nasional juga mendominasi linimasa Twitter di Indonesia. Bahkan, topik itu sempat menduduki peringkat pertama trending topic Twitter di Indonesia. Layanan aplikasi Topsy pada Kamis pukul 09.50 mencatat sebanyak 4.475 kali frasa "Selamat Hari Anak Nasional" digunakan di linimasa Twitter dalam satu jam terakhir. Lonjakan penggunaan frasa itu membuat frasa tersebut menyodok ke peringkat pertama (Kompas, 24/07).

Era digital semakin memudahkan kita untuk menarik massa. Sayangnya, #SaveAnakIndonesia atau “Selamat Hari Anak Nasional” bernasib sama dengan hastag lainnya. Ia tak bedanya tagar #SavePalestina, #SaveNKRI, #SaveJomblo, dan #PrayForTurki yang mampang eksis beberapa saat setelah itu dilupakan. Seperti halnya mohon maaf lahir batin yang (hanya) terucap pada saat lebaran. Kalau lebaran sudah lewat ya mohon maafnya juga lewat alias menunggu lebaran tahun berikutnya untuk melakukan hal yang sama. Begitu seterusnya. Kemudahan menarik massa di era digital, ternyata juga diimbangi dengan mudahnya kehilangan massa. Minat publik mudah sekali berubah dan mencari bahan untuk diramaikan.

Korban Eksis

Nasib anak bangsa yang diharapkan berubah lebih baik dengan adanya kemajuan teknologi, informasi belum terlihat secara nyata. Kaum akademisi yang kelak membebaskan mereka dari jeruji kebodohan masih sibuk dengan proposal penelitian. Sementara itu, lembaga-lembaga swadaya yang berjanji mengangkat martabat mereka belum bisa berbuat banyak. Selain jumlahnya yang masih terbatas, masalah pembiayaan dan fasilitas juga persoalan vital yang belum terselesaikan. Sedangkan generasi muda, yang memegang “kuasa” atas (pemakaian) teknologi informasi komunikasi, justru terjebak dalam dunia ilusi maya yang mereka ciptakan. Tuntutan untuk tetap eksis mereka lakukan, mengorbankan segala yang dimiliki, mungkin juga termasuk generasi dibawahnya (baca : anak-anak).

Teknologi informasi belum mampu membawa anak-anak kita bahagia. Damhuri Muhammad dalam artikelnya di Harian Kompas (26/07) mengatakan bahwa kenyataan ini lantaran kita memaksa untuk menghadirkan kenyataan sesuai apa yang kita inginkan. Dia menggambarkan seolah karena kita tak mampu menggenggam kenyataan secara paripurna, lantas dunia digital dicipta untuk membantu kita menggauli kenyataan itu secara memadai. Saya menganggap hal ini sebagai kemajuan teknologi yang prematur.

Perkakas yang dulunya hanya boleh digunakan oleh orang-orang terdidik dengan takaran dan pemakaian, kini tak peduli siapapun boleh memakainya meski tanpa disadari hal itu mengancam orang lain.

Tak terkecuali anak-anak berpunya yang dengan mahirnya jari mereka menari dan berselancar perkakas digital. Mungkin banyak dari orang tua yang bangga melihat capaian tersebut. Tanpa disadari ancaman justru kian menghampiri. Dalam pola kepengasuhan yang serba digital tentu saja mengakibatkan anak jauh dari orang tuanya.

Anak Sapi, Anak Digital

Saya teringat kanangan masa kecil saya yang hampir tidak pernah minum susu sapi apalagi susu formula. Anak-anak sebaya di desa saya pun rata-rata sama dengan saya. Muncul slentingan tetangga “lha wong anak manusia kok minum susu sapi, tidak pas. Kalau minum susu sapi ya pedet -sebutan orang jawa kepada anak sapi- namanya.” Dan jika ada anak yang sulit diajari kok kebetulan memang suka minum susu sapi slentingan yang muncul ialah “pancen ngumbene wae susu sapi, mulane dungu koyo sapi” artinya pantas saja jikalau minumnya saja susu sapi, bodohlah seperti sapi. 

Slentingan orang jawa ini mengandung nilai bahwa tabiat manusia terbentuk dari lingkungan, asuhan, kebiasaan, dan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Sapi adalah hewan yang terkenal dungu, oleh sebab itu ia jadi perumpamaan. Dari sini timbul pertanyaan, lalu bagaimana dengan anak yang “diasuh” oleh gawai, robot, dan sejenisnya?

Bayangan kasar saya, robot, gawai dan sejenisnya memang pintar, cekatan, dan canggih namun ia tidak punya perasaan layaknya makhluk hidup. Maka itulah kiranya gambaran anak-anak digital kita, yang pandai merangkai ide, mewujudkannya menjadi inovasi terbarukan berguna bagi kemajuan dan masa depan, tetapi belum tentu bisa memberi keseimbangan alam.

Maka, hari anak bukan saja sekadar peringatan yang datang tahunan. Hari anak juga bukan saja menyadari pentingnya memberi waktu untuk liburan dan bersenang-senang bagi anak. Pun oleh orang tua, hari anak tidak melulu harus membuat anak-anak tersenyum saat itu jua. Mengasuh anak tidak demikian sporadis yang memaksa orang tua atau guru untuk selalu menebar senyum kepada anak. Namun tidak juga lantas di(h)ajar dengan keras hingga meninggalkan bekas luka.

Hari anak adalah hari bagi para pengasuh anak-anak manusia untuk sadar komposisi kepengasuhan anak. Memahami watak dan karakter sang anak, membinanya menjadi manusia sempurna dengan cara layaknya manusia. Tahu sela waktu untuk mengajari anak, kapan diajar tegas dan kapan lemah lembut. Demikian itu harus dilakukan oleh para pengasuh anak dan orang tua setiap hari. Karena saban hari itulah hari anak, yang kelak dirasakannya hingga dewasa.

Muhammad Farid, Bergiat di Paradigma Institute Kudus.
Google +

Admin Sekitar Muria

Terima Kasih sudah membaca artikel di SEKITARMURIA.COM silahkan tinggalkan komentar maupun like untuk masukan buat tim redaksi. Kami juga menerima tulisan dari pembaca, dengan cara kirim melalui email kami sekitarmuria@gmail.com jangan lupa share artikel ini.

0 komentar:

Post a Comment